Senin, 09 Oktober 2017

Minggu, 08 Oktober 2017

Ringkasan Jurnal : Penentuan Pola Kelelahan Fisik pada Perokok Aktif dengan Menggunakan Metode Response Surface Methodolo

PENENTUAN POLA KELELAHAN FISIK PADA PEROKOK AKTIF DENGAN MENGGUNAKAN METODE RESPONSE SURFACE METHODOLOGY
 (Studi Kasus: Mahasiswa PS. Teknik Industri UIN Sunan Kalijaga)
Penulis                  : Tutik Farihah
Dirangkum Oleh   : Prameswari Salsabila
Tanggal                 : 9 Oktober 2017

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola kelelahan fisik pada perokok aktif baik di beban kerja ringan, menengah dan beban kerja yang berat dengan faktor suhu dan cahaya. Response Permukaan Metodologi ( RSM ) adalah kumpulan teknik statistik dan matematika yang berguna untuk evaluasi hubungan yang ada pada beberapa faktor kuantitatif terhadap variabel respon. Berdasarkan hasil pengolahan data pada beban kerja ringan dan beban kerja menengah memiliki fungsi pola pelana. Sedangkan pada beban kerja berat memiliki fungsi respon permukaan minimum.
Kata Kunci: RSM; beban kerja

 PENDAHULUAN
          Jumlah perokok di dunia ini tidaklah sedikit, dan tentu saja setiap tahunnya akan terus meningkat karena pengaruh dari bertambahnya jumlah populasi. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan jumlah perokok terbesar di dunia, hal ini dibuktikan dengan masuknya Indonesia dalam peringkat ke 3 negara dengan konsumsi tembakau pada tahun 2008 (WHO dalam Prabandari dkk, 2009). Menurut Poerwadarmminta (1995) rokok adalah gulungan tembakau yang berbalut daun nipah atau kertas. Merokok dapat didefinisikan sebagai kegiatan menghisap asap tembakau yang dibakar ke dalam tubuh dan menghembuskannya kembali ke luar (Amstrong,1990). Menurut Smet (1994) perokok dapat diklasifikasikan berdasarkan jumlah rokok yang dikonsumsi perhari, yaitu perokok ringan (1 – 4 batang), sedang (5 – 14 batang), berat (lebih dari 15 batang). Satu batang rokok mengandung banyak zat yang berbahaya, sehingga dapat mengganggu kesehatan dan produktivitas kerja yang berhubungan dengan tingkat kelelahan. Peneliti dalam jurnalnya menggunakan faktor internal berupa denyut nadi untuk mengukur tinggat kelelahan kerja, baik itu pada beban kerja berat, sedang dan ringan. Faktor eksternal yang digunakan dalam penelitian adalah kondisi lingkungan kerja tepatnya adalah suhu dan cahaya.