Selasa, 26 Desember 2017

REVIEW JURNAL INTERNATIONAL



REVIEW JURNAL INTERNATIONAL

Judul
Dagnostic Framework and Health Check Tool for Engineering and  Technology Projects (Kerangka Diagnostik dan Pemeriksaan Alat Kesehatan untuk Proyek Teknik dan Teknologi)
Jurnal
Journal of Industrial Engineering and Management
Vol
Vol. 7 No. 5
Halaman
1145-1166
Tahun
2014
Penulis
Simon P.Philbin from Imperial College Business School Imperial College London (Uined Kingdom), and Donald A.Kennedy from Willbros Group Inc. (Canada)
Download
Reviewer
Prameswari Salsabila
Tanggal
26 Desember 2017

Abstrak
Tujuan: Pengembangan berorientasi praktisi kerangka diagnostik dan pemeriksaan alat kesehatan untuk mendukung penilaian dari peoyek teknik dan teknologi.
Desain / metodologi / pendekatan: Penelitian ini didasarkan pada tinjauan literatur mengenai penilaian proyek dan faktor keberhasilan penting untuk membangun pandangan sistem proyek yang terintegrasi. Sistem ini diperpanjang untuk memungkinkan kerangka diagnostik yang komprehensif dan dikembangkan bersama dengan alat pemeriksaan kesehatan tingkat tinggi yang dapat mudah digunakan pada proyek-proyek. Utilitas dari diagnostik kerangka kerja dan pemeriksaan kesehatan alat dieksplorasi melalui tiga studi kasus ilustratif, dengan dua dari Kanada dan satu dari Inggris.
Temuan dan Orisinalitas / nilai: Kinerja teknik dan teknologi proyek dapat dilihat melalui perspektif sistem dan fungsi dari enam kontribusi sub-sistem yaitu: proses, teknologi, sumber daya, dampak, pengetahuan dan budaya.  Kerangka Diagnostik yang dikembangkan melalui penelitian ini mengintegrasikan sub-sistem untuk menyediakan metodologi penilaian yang kuat untuk proyek yang terkait, ulasan kinerja manajemen dan model kedewasaan. Studi kasus memberikan wawasan manajerial yang terkait dengan kerangka diagnostik tetapi juga memposisikan pendekatan dalam konteks aplikasi industri untuk teknik konstruksi dan manajemen teknologi.
Penelitian / implikasi: Pendekatan studi kasus mencakup dari konstruksi, fasilitas sektor pembangunan kemudian riset sektor dan teknologi. Pekerjaan lebih lanjut diperlukan untuk menyelidiki penggunaan kerangka diagnostik pemeriksaan kesehatan alat di sektor lain.
Implikasi praktis: Alat pemeriksaan kesehatan akan bermanfaat praktis untuk proyek-proyek baru manajer yang membutuhkan akses tinjauan metodologi yang kuat dan nyaman untuk menilai status dan kesehatan dari portofolio. Alat ini juga dapat digunakan secara berkala untuk melacak kinerja proyek.
Orisinalitas / nilai: Makalah ini memberikan tampilan yang unik dan mendukung kerangka kerja manajemen untuk membantu manajer proyek menilai status dan kesehatan proyek. Nilai ini dapat dikaitkan dengan perluasan literatur mengenai alat diagnostik untuk manajemen proyek rekayasa serta wawasan yang disediakan dalam tiga studi kasus internasional, yang mengeksplorasi ruang lingkup dan penerapan alat pemeriksaan kesehatan akan digunakan untuk mendukung proyek-proyek yang memiliki kesulitan dan yang membutuhkan implementasi strategi pemulihan proyek.
Kata kunci: manajemen proyek teknik, penilaian proyek dan review, kinerja proyek, diagnosa, pemeriksaan kesehatan, studi kasus.

1.      Pendahuluan
Pada hari pertama di tempat kerja, manajer proyek teknik baru dihadapkan dengan sejumlah tantangan. Salah satu tantangan yang terpenting, yaitu menilai proyek dan memastikan kesehatan proyek. Hal ini diperlukan untuk memastikan kemajuan aktivitas proyek, tugas proyek yang dilaksanakan sesuai dengan jadwal, tingkat pengeluaran yang sesuai dengan anggaran, serta kinerja dan kualitas dapat tercapai sesuai dengan spesifikasi. Berdasarkan hal tersebut maka manajer proyek harus memahami apakah metodelogi manajemen proyek telah dilaksanakan secara memadai melalui pengendalian proyek dan pengaturan tata cara proyek yang efektif, serta apakah kinerja proyek sesuai dengan pandangan stakeholder, senior internal, staf teknik, serta perwakilan klien. Ketidakmampuan seorang manajer proyek teknik baru untuk melakukan penilaian proyek yang efektif dan pemeriksaan kesehatan proyek secara tepat waktu akan berpotensi terhapat kinerja proyek tersebut. Oleh karena itu, memperoleh akses cepat pada alat diagostik yang handal dapat membentu manajer proyek teknik baru untuk menilai status proyek secara cepat dan efisien.
Jurnal ini membahas mengenai penilaian kinerja proyek dengan memberikan rincian mengenai kerangka diasnotik dan alat pengecekan kesehatan yang dikembangkan untuk membantu manajer proyek menilai status dan kesehatan proyek. Kerangka diasnotik akan menggabungkan pandangan sistem terpadu sehingga dapat melihat kompleksitas ligkungan proyek dan faktor pendukung yang pada akhirnya mempengaruhi kinerja proyek. Hal ini tentu saja dapat membantu mengidentifikasi masalah mendasar sehingga dapat merumuskan rencana pemulihan proyek.

2. Tinjauan Literatur
      Penilaian kinerja proyek perlu melibatkan penilian terhadap jadwal, pengeluaran, kualitas output yang dikaitkan dengan kesiapan dari metodelogi proyek yang digunakan (Jin, Chai & Tan, 2014). Para penulis juga mengidentifikasika tujuh tema utama dari factor penentu keberhasilan yang dapat dipertimbangkn dalam menilai kesehatan suatu proyek, yaitu biaya, waktu, kualitas, hubungan, keselamatan, lingkungan dan stakeholder. Pencapaian waktu, biaya, kualitas dalam proyek teknik dapat diatasi melalui penerapan proses

Selasa, 07 November 2017

Tabel Perbandigan Review Jurnal 1 dan Jurnal 2


Jurnal 1
Jurnal 2
Judul
Penentuan Pola Kelelahan Fisik pada Perokok Aktif dengan Mneggunakan Metode Response Surface Methodology
Proses Pembuatan Serat Mikrobial (nata) dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit
Pendahuluan
Sekarang ini jumlah perokok aktif sangatlah banyak. Merokok sendiri pasti akan berpengaruh pada fisik seseorang. Berawal dari mempengaruhi fisik, selanjutkan akan mempengaruhi produktifitas dalam bekerja. Hal tersebut dapat diuur berdasarkan kapasitas par-paru, semakin kecil kapasitas paru-paru akibat merokok maka akan semakin mudah untuk kelelahan. Peneliti dalam jurnaknya menggunakan factor interna berupa denyut nadi untuk mengukur tingkat kelelahan kerja baik itu kerja berat, sedang dan ringan. Kemudian untuk faktor eksternal yang dapat mempengaruhi produktifitas kerja adalah kondisi lingkungan yang panas ata suhu dan tingkakt keterangan cahaya, kedua fktor tersebut dapat mempengarhi produktifitas kerja seseorang. Penelitian ini diuji dengan menggunakan metode response surface methodology.
Kelapa sawit merupakan salah satu pertanian penghasil devisa, oleh karena itu di Indonesia kelapa sawit banyak diolah menjadi  crude palm oil. Proses pengolahan tersebut menghasilkan limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) dan jika tidak diolah makan akan mencemari lingkungan. Selain itu  LCPKS juga berpotensi sebagai sumber mikrobial dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum. LCPKS yang kaya akan bahan organik dengan proses fermentasi akan diubah menjadi gula monomer, kemudian dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum diubah menjadi serat microbial. Sifat fisik selulosa yang berasal dari bakteri ini, yaitu memiliki kemurnian tinggi, kekuatan mekanik, kristalinitas, porositas yang tinggi, dan memiliki kapasitas dalam menyerap air yang cukup besar dan mudah terurai. Sifat inilah yang membuat serat nata de coco berpotensi untuk dijadikan bahan pencampur dalam industri. Oleh karena itu sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, peneliti ini penting untuk meningkatkan daya saing industri, serta untuk menemuukan alternatif bahan baku baru.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dalam jurnal ini tidak diterangkan secara jelas, melainkan tersirat dalam pendahuluan. Tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui pola keleahan fisik pada perokok aktif, baik itu kerja berat, sedang, dan ringan
Menentukan formulasi penambahan air kelapa ke dalam LCPKS dalam pembuatan serat microbial (nata). Menentukan waktu yang tepaat untuk inokulasi Acetobacter xylinum pada pembuatann serat microbial (nata) dari LCPKS.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode response surface methodology yang terbagi menjadi 6 tahapan, yaitu pemilihan variabel independent, penentuann desain eksperimen, pengambilan data, pemodelan hasil eksperimen, identifikasi bentuk respon pada RSm, dan yang terakhir adalah identifikasi tahap verifikasi odel menggunkan AOVA untuk menyimpulkannya
Penelitian diawali dengan analisis bahan baku (LCPKS dan air kelapa), yang meliputi kadar gula total (AOAC, 1995), TSS (AOAC, 1995), dan pH. Analisis dilakukan 3 kali dan hasilnya dirata-ratakan. Penelitian utama dilakukan dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan 3 ulangan. Faktor dalam penelitian adalah umur simpan LCPKS, (7, 14, dan 21 hari) penyimpanan LCPKS. Faktor kedua adalah penambahan air kelapa dengan taraf 0%, 10%; 20%; 30%; dan 40% dari total LCPKS. Data dianalisis dengan taraf nyata 1%. Parameter pengamatan meliputi ketebalan lapisan nata, rendemen basah, kadar air nata, tingkat keasaman (pH). Proses fermentasi dilakukan didalam gelas kaca dengan volume 300 mL. Suhu fermentasi 29- 30oC (suhu ruang). Jumlah starter yang digunakan seragam.
Hasil dan Pembahasan
Penentuan model orde satu digunakan metode regresi linear dengan pendekatan least square. Hasil pencatatan denyut nadi diolah dengan menggunakan software Minitab v.17.0. Nilai α = 0,055 (5%) dengan Ftabel = 3,42. Berdasarkan Tabel ANOVA orde satu dapat diketahui untuk beban kerja ringan, sedang dan berat tidak memiliki hun=Bungan yang linear, sehingga perlu dilanjutkan pada model ANOVA orde dua. Hasil dari beban kerja ringan pengujian orde dua, yaitu pada beban kerja ringan diperoleh besar denyut nadi berkisar 120 – 125 pada saat suhu tinggi, sehingga denyut nadi akan meningkat jika suhu meningkat. Titik stasioner orde II berapa pada denyut nadi 99,659 dengan suhu 19,09’C dan cahaya 351,873 Lux. Hail pengujian beban kerja sedang diperoleh Besar denyut nadi berkisar 150 – 155 pada saat suhu tinggi, sehingga denyut nadi akan meningkat jika suhu meningkat. Titik stasioner orde II berapa pada denyut nadi 128.533 dengan suhu 18,854’C dan cahaya 288,904 Lux. Hasil pembahasan beban kerja berat diperoleh range denyut nadi > 170 berada di range suhu tinggi dan cahaya tinggi, sedangkan denyut nadi < 140 berada pada suhu normal dan cahaya rendah. Semakin jauh suhu dari suhu normal maka akan semakin tinggi denyut nadi atau tingkat kelelahan fisik. Semakin tinggi cahaya maka akan semakin tinggi denyut nadi responden.
Analisis bahan baku diperoleh hasil untuk kadar gula air kelapa dan LCPKS adalah 2,09% dan 0,14% yang diharapkan cukup untuk kebutuhan awal pertumbuhan Acetobacter xylinum. Kebutuhan gula berikutnya berasal dari konversi TSS LCPKS menjadi gula, pH air kelapa dan LCPKS dibawah 5,00, sehingga kondisi ini optimum untuk  pertumbuhan Acetobacter xylinum. Lama umur penyimpanan juga mempengaruhi ketebalan serat, jika LCPKS semakin lama disimpan maka akan semakin menurun ketebalan serat mikrobal yang dihasilkan. Hasil uji rendemen serat mikrobial basah, yaitu penambhan air kelapa sampai 40% mampu meningkatkan rendemen serat microbial, hal ini menunjukkan air kelapa dapat meningkatkan kecepatan pertumbuhan  Acetobacter xylinum. Sedangkan jika LCPKS lama disimpan, maka akan semakin menurunkannya. Uji pH menyatakan bahwa semua perlakuan menghasilkan tingkat pH yang sama, yaitu 5,0 – 5,4. Sehingga serat microbial tidak dipengaruhi oleh pH, namun komposisi media. Uji kadar air menyatakan pada serat microbial tidak semua air di dalamnya menghilang, sehingga serat microbial memiliki tekstur lentur dan tidak mudah patah. Uji kadar serat menyatakan bahwa kadar serat mengalami penigkatan seiring meningkatnya mur LCPKS
Kesimpulan
Berdasarkan uji anova pada persamaan linear (persamaan orde I) beban kerja ringan, sedang, dan berat perokok aktif tidak berbentuk linear. Pengolahan data orde II para perokok aktif dengan kategori beban kerja ringan dan sedang memiliki pola respon kelelahan fisik pelana, dengan titik optimum denyut nadi pada beban kerja ringan adalah 99,659 berada pada suhu 19,09’C dan cahaya 351,873 Lux.  Beban kerja sedang mempunyai titik optimum denyut nadi sebesar 128,533 yang akan tercapai pada suhu 18,854’C dan cahaya 288,904 Lux. Beban kerja berat permukaan responnya cenderung berbentuk minimum, sehingga semakin jauh suhu dari suhu normal maka akan semakin tinggi denyut nadi atau tingat kelelahan fisik responden.
Penambahan air kelapa ke dalam LCPKS sampai dengan kosentrasi 40% mampu meningkatkan ketebalan dan rendemen  serat microbial (nata) yang dihasilkan. Umur sampan LCPKS hingga 21 hari ternyata menurunkan ketebalan dan membuat serat microbial basah, namun hal tersebut mampu meningkatkan rendemen kering serat microbial yang dihasilkan.

Kelebihan
Hasil dan pembahasan dijelaskan oleh peneliti secara jelas, beserta tabel dan diagram statistiknya, hal ini membuat pembaca lebih mudah untuk memahami jurnal.
Terdapat diagram alir yang mempermudah untuk memahami proses pengujian. Kelebihan yang kedua adalah
Bahasa yang digunakan oleh peneliti mudah untuk dipahami oleh pembaca
Kekurangan
Pembahasan peneliti terkadang sedikit membingungkan serta terdapat beberapa kata yang tidak konsisten, namun hal tersebut dapat dikurangi karena kelebihan yang terdapat pada jurnya tersebut.
Bagian uji pH, analisis hasil tidak terdapat penjelasan parameter yang jelas, sehingga pembaca kurang mengetahui kategori berpengaruh pada media atau tidaknya.

Review Jurnal (2) PPT

Review Jurnal (2) : Proses Pembuatan Serat Mikrobial (Nata) dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit

Judul
Proses Pembuatan Serat Mikrobial (Nata) dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit
Jurnal
Teknologi Industri Pertanian
Website
Volume & Halaman
25 (2):171-176
Tahun
2016
Penulis
Sartono*), Zulfahmi, dan Syamsu Akmal
Reviewer
Prameswari Salsabila
Tanggal Review
 07 November 2017


ABSTRAK


Pengolahan buah kelapa sawit menjadi crude palm oil (CPO) menghasilkan limbah cair (limbah cair pabrik kelapa sawit = LCPKS) dalam jumlah besar. Disamping berpotensi sebagai pencemar lingkungan, LCPKS juga memiliki potensi sebagai sumber serat mikrobial. Tujuan penelitian ini adalah penentuan formulasi penambahan air kelapa ke dalam LCPKS dalam pembuatan serat mikrobial (nata) dan penentuan waktu yang tepat untuk inokulasi Acetobacter xylinum pada pembuatan serat mikrobial (nata). Faktor pertama adalah waktu simpan LCPKS, dengan taraf 7 hari, 14 hari, dan 21 hari. Faktor kedua adalah penambahan air kelapa dengan taraf 0%, 10%; 20%; 30%; dan 40% dari total LCPKS. Kesimpulan hasil penelitian adalah (1) penambahan air kelapa ke dalam LCPKS sampai konsentrasi 40% mampu meningkatkan ketebalan dan rendemen serat mikrobial (nata), (2) Acetobacter xylinum mampu tumbuh pada media 100% LCPKS, (3) Penyimpanan LCPKS sampai 21 hari mampu menurunkan ketebalan dan rendemen basah serat mikrobial (nata), tetapi meningkatkan rendemen kering serat mikrobial (nata) yang dihasilkan.
Kata kunci: CPO, LCPKS, nata, serat microbial

1.          Pendahuluan
Kelapa sawit merupakan salah satu pertanian penghasil devisa bagi Indonesia, selain itu kelapa sawit juga menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, tak heran jika kelapa sawit banyak dimanfaatkan untuk pengolahan crude palm oil (CPO). Namun proses pengolahan crude palm oil (CPO) tersebut sebenarnya juga menghasilkan limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) dalam jumlah yang besar. Perkiraan jumlah LCPKS yang dihasilkan di Indonesia adalah setiap ton CPO menghasilkan 3 ton LCPKS. Karakteristik LCPkS mempunyai mempunyai kandungan chemical oxygen demand (COD) 40,000–100,000 mg/L; biological oxygen demand (BOD) 25,000–65,000 mg/L; total padatan 26,5-45,4 g/L dan TSS 17,1- 35,9 g/L. Penelitian lain juga menunjukkan jika LCPKS memiliki tingkat kandungan keasaman (pH) 4-5 dan kandungan bahan organiknya. Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa disamping berpotensi sebagai pencemar lingkungan, LCPKS juga berpotensi sebagai sumber serat microbial dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum.
LCPKS yang kaya akan bahan organik dengan proses fermentasi akan diubah menjadi gula monomer, kemudian dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum diubah menjadi serat microbial. Titik kritis proses konversi LCPKS menjadi serat mikrobial adalah waktu hidrolisis (konversi makromolekul menjadi glukosa) dan fermentasi (konversi glukosa menjadi biomasa/serat). Waktu yang terlalu cepat mengakibatkan glukosa belum terbentuk, sehingga dihasilkan serat sedikit. Demikian juga sebaliknya, waktu yang terlalu lama mengakibatkan glukosa yang terbentuk berubah menjadi CO2 dan H2O. Selain waktu yang tepat untuk inokulasi Acetobacter xylinum, formulasi campuran media untuk pertumbuhannya merupakan suatu hal yang penting.
Sifat fisik unik selulosa yang berasal dari bakteri ini antara lain adalah memiliki kemurnian tinggi, kristalinitas, kekuatan mekanik, dan porositas yang tinggi serta memiliki kapasitas dalam menyerap air yang cukup besar dan mudah terurai. Sifat inilah yang membuat serat nata de coco berpotensi untuk dijadikan bahan pencampur dalam industri kertas, produksi karbon film elektrokonduktif, bahan-bahan untuk keperluan biomedis, dan lain-lain. Oleh karena itu sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, penelitian ini penting untuk meningkatkan daya saing industri, serta memperbaiki citra idustri kelapa sawit Indonesia yang ramah lingkungan. Penelitian ini juga bermanfaat untuk menemukan alternatif bahan baku baru dalam serat mikrobial.

Senin, 09 Oktober 2017

Minggu, 08 Oktober 2017

Ringkasan Jurnal : Penentuan Pola Kelelahan Fisik pada Perokok Aktif dengan Menggunakan Metode Response Surface Methodolo

PENENTUAN POLA KELELAHAN FISIK PADA PEROKOK AKTIF DENGAN MENGGUNAKAN METODE RESPONSE SURFACE METHODOLOGY
 (Studi Kasus: Mahasiswa PS. Teknik Industri UIN Sunan Kalijaga)
Penulis                  : Tutik Farihah
Dirangkum Oleh   : Prameswari Salsabila
Tanggal                 : 9 Oktober 2017

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola kelelahan fisik pada perokok aktif baik di beban kerja ringan, menengah dan beban kerja yang berat dengan faktor suhu dan cahaya. Response Permukaan Metodologi ( RSM ) adalah kumpulan teknik statistik dan matematika yang berguna untuk evaluasi hubungan yang ada pada beberapa faktor kuantitatif terhadap variabel respon. Berdasarkan hasil pengolahan data pada beban kerja ringan dan beban kerja menengah memiliki fungsi pola pelana. Sedangkan pada beban kerja berat memiliki fungsi respon permukaan minimum.
Kata Kunci: RSM; beban kerja

 PENDAHULUAN
          Jumlah perokok di dunia ini tidaklah sedikit, dan tentu saja setiap tahunnya akan terus meningkat karena pengaruh dari bertambahnya jumlah populasi. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan jumlah perokok terbesar di dunia, hal ini dibuktikan dengan masuknya Indonesia dalam peringkat ke 3 negara dengan konsumsi tembakau pada tahun 2008 (WHO dalam Prabandari dkk, 2009). Menurut Poerwadarmminta (1995) rokok adalah gulungan tembakau yang berbalut daun nipah atau kertas. Merokok dapat didefinisikan sebagai kegiatan menghisap asap tembakau yang dibakar ke dalam tubuh dan menghembuskannya kembali ke luar (Amstrong,1990). Menurut Smet (1994) perokok dapat diklasifikasikan berdasarkan jumlah rokok yang dikonsumsi perhari, yaitu perokok ringan (1 – 4 batang), sedang (5 – 14 batang), berat (lebih dari 15 batang). Satu batang rokok mengandung banyak zat yang berbahaya, sehingga dapat mengganggu kesehatan dan produktivitas kerja yang berhubungan dengan tingkat kelelahan. Peneliti dalam jurnalnya menggunakan faktor internal berupa denyut nadi untuk mengukur tinggat kelelahan kerja, baik itu pada beban kerja berat, sedang dan ringan. Faktor eksternal yang digunakan dalam penelitian adalah kondisi lingkungan kerja tepatnya adalah suhu dan cahaya.