Selasa, 07 November 2017

Tabel Perbandigan Review Jurnal 1 dan Jurnal 2


Jurnal 1
Jurnal 2
Judul
Penentuan Pola Kelelahan Fisik pada Perokok Aktif dengan Mneggunakan Metode Response Surface Methodology
Proses Pembuatan Serat Mikrobial (nata) dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit
Pendahuluan
Sekarang ini jumlah perokok aktif sangatlah banyak. Merokok sendiri pasti akan berpengaruh pada fisik seseorang. Berawal dari mempengaruhi fisik, selanjutkan akan mempengaruhi produktifitas dalam bekerja. Hal tersebut dapat diuur berdasarkan kapasitas par-paru, semakin kecil kapasitas paru-paru akibat merokok maka akan semakin mudah untuk kelelahan. Peneliti dalam jurnaknya menggunakan factor interna berupa denyut nadi untuk mengukur tingkat kelelahan kerja baik itu kerja berat, sedang dan ringan. Kemudian untuk faktor eksternal yang dapat mempengaruhi produktifitas kerja adalah kondisi lingkungan yang panas ata suhu dan tingkakt keterangan cahaya, kedua fktor tersebut dapat mempengarhi produktifitas kerja seseorang. Penelitian ini diuji dengan menggunakan metode response surface methodology.
Kelapa sawit merupakan salah satu pertanian penghasil devisa, oleh karena itu di Indonesia kelapa sawit banyak diolah menjadi  crude palm oil. Proses pengolahan tersebut menghasilkan limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) dan jika tidak diolah makan akan mencemari lingkungan. Selain itu  LCPKS juga berpotensi sebagai sumber mikrobial dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum. LCPKS yang kaya akan bahan organik dengan proses fermentasi akan diubah menjadi gula monomer, kemudian dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum diubah menjadi serat microbial. Sifat fisik selulosa yang berasal dari bakteri ini, yaitu memiliki kemurnian tinggi, kekuatan mekanik, kristalinitas, porositas yang tinggi, dan memiliki kapasitas dalam menyerap air yang cukup besar dan mudah terurai. Sifat inilah yang membuat serat nata de coco berpotensi untuk dijadikan bahan pencampur dalam industri. Oleh karena itu sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, peneliti ini penting untuk meningkatkan daya saing industri, serta untuk menemuukan alternatif bahan baku baru.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dalam jurnal ini tidak diterangkan secara jelas, melainkan tersirat dalam pendahuluan. Tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui pola keleahan fisik pada perokok aktif, baik itu kerja berat, sedang, dan ringan
Menentukan formulasi penambahan air kelapa ke dalam LCPKS dalam pembuatan serat microbial (nata). Menentukan waktu yang tepaat untuk inokulasi Acetobacter xylinum pada pembuatann serat microbial (nata) dari LCPKS.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode response surface methodology yang terbagi menjadi 6 tahapan, yaitu pemilihan variabel independent, penentuann desain eksperimen, pengambilan data, pemodelan hasil eksperimen, identifikasi bentuk respon pada RSm, dan yang terakhir adalah identifikasi tahap verifikasi odel menggunkan AOVA untuk menyimpulkannya
Penelitian diawali dengan analisis bahan baku (LCPKS dan air kelapa), yang meliputi kadar gula total (AOAC, 1995), TSS (AOAC, 1995), dan pH. Analisis dilakukan 3 kali dan hasilnya dirata-ratakan. Penelitian utama dilakukan dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan 3 ulangan. Faktor dalam penelitian adalah umur simpan LCPKS, (7, 14, dan 21 hari) penyimpanan LCPKS. Faktor kedua adalah penambahan air kelapa dengan taraf 0%, 10%; 20%; 30%; dan 40% dari total LCPKS. Data dianalisis dengan taraf nyata 1%. Parameter pengamatan meliputi ketebalan lapisan nata, rendemen basah, kadar air nata, tingkat keasaman (pH). Proses fermentasi dilakukan didalam gelas kaca dengan volume 300 mL. Suhu fermentasi 29- 30oC (suhu ruang). Jumlah starter yang digunakan seragam.
Hasil dan Pembahasan
Penentuan model orde satu digunakan metode regresi linear dengan pendekatan least square. Hasil pencatatan denyut nadi diolah dengan menggunakan software Minitab v.17.0. Nilai α = 0,055 (5%) dengan Ftabel = 3,42. Berdasarkan Tabel ANOVA orde satu dapat diketahui untuk beban kerja ringan, sedang dan berat tidak memiliki hun=Bungan yang linear, sehingga perlu dilanjutkan pada model ANOVA orde dua. Hasil dari beban kerja ringan pengujian orde dua, yaitu pada beban kerja ringan diperoleh besar denyut nadi berkisar 120 – 125 pada saat suhu tinggi, sehingga denyut nadi akan meningkat jika suhu meningkat. Titik stasioner orde II berapa pada denyut nadi 99,659 dengan suhu 19,09’C dan cahaya 351,873 Lux. Hail pengujian beban kerja sedang diperoleh Besar denyut nadi berkisar 150 – 155 pada saat suhu tinggi, sehingga denyut nadi akan meningkat jika suhu meningkat. Titik stasioner orde II berapa pada denyut nadi 128.533 dengan suhu 18,854’C dan cahaya 288,904 Lux. Hasil pembahasan beban kerja berat diperoleh range denyut nadi > 170 berada di range suhu tinggi dan cahaya tinggi, sedangkan denyut nadi < 140 berada pada suhu normal dan cahaya rendah. Semakin jauh suhu dari suhu normal maka akan semakin tinggi denyut nadi atau tingkat kelelahan fisik. Semakin tinggi cahaya maka akan semakin tinggi denyut nadi responden.
Analisis bahan baku diperoleh hasil untuk kadar gula air kelapa dan LCPKS adalah 2,09% dan 0,14% yang diharapkan cukup untuk kebutuhan awal pertumbuhan Acetobacter xylinum. Kebutuhan gula berikutnya berasal dari konversi TSS LCPKS menjadi gula, pH air kelapa dan LCPKS dibawah 5,00, sehingga kondisi ini optimum untuk  pertumbuhan Acetobacter xylinum. Lama umur penyimpanan juga mempengaruhi ketebalan serat, jika LCPKS semakin lama disimpan maka akan semakin menurun ketebalan serat mikrobal yang dihasilkan. Hasil uji rendemen serat mikrobial basah, yaitu penambhan air kelapa sampai 40% mampu meningkatkan rendemen serat microbial, hal ini menunjukkan air kelapa dapat meningkatkan kecepatan pertumbuhan  Acetobacter xylinum. Sedangkan jika LCPKS lama disimpan, maka akan semakin menurunkannya. Uji pH menyatakan bahwa semua perlakuan menghasilkan tingkat pH yang sama, yaitu 5,0 – 5,4. Sehingga serat microbial tidak dipengaruhi oleh pH, namun komposisi media. Uji kadar air menyatakan pada serat microbial tidak semua air di dalamnya menghilang, sehingga serat microbial memiliki tekstur lentur dan tidak mudah patah. Uji kadar serat menyatakan bahwa kadar serat mengalami penigkatan seiring meningkatnya mur LCPKS
Kesimpulan
Berdasarkan uji anova pada persamaan linear (persamaan orde I) beban kerja ringan, sedang, dan berat perokok aktif tidak berbentuk linear. Pengolahan data orde II para perokok aktif dengan kategori beban kerja ringan dan sedang memiliki pola respon kelelahan fisik pelana, dengan titik optimum denyut nadi pada beban kerja ringan adalah 99,659 berada pada suhu 19,09’C dan cahaya 351,873 Lux.  Beban kerja sedang mempunyai titik optimum denyut nadi sebesar 128,533 yang akan tercapai pada suhu 18,854’C dan cahaya 288,904 Lux. Beban kerja berat permukaan responnya cenderung berbentuk minimum, sehingga semakin jauh suhu dari suhu normal maka akan semakin tinggi denyut nadi atau tingat kelelahan fisik responden.
Penambahan air kelapa ke dalam LCPKS sampai dengan kosentrasi 40% mampu meningkatkan ketebalan dan rendemen  serat microbial (nata) yang dihasilkan. Umur sampan LCPKS hingga 21 hari ternyata menurunkan ketebalan dan membuat serat microbial basah, namun hal tersebut mampu meningkatkan rendemen kering serat microbial yang dihasilkan.

Kelebihan
Hasil dan pembahasan dijelaskan oleh peneliti secara jelas, beserta tabel dan diagram statistiknya, hal ini membuat pembaca lebih mudah untuk memahami jurnal.
Terdapat diagram alir yang mempermudah untuk memahami proses pengujian. Kelebihan yang kedua adalah
Bahasa yang digunakan oleh peneliti mudah untuk dipahami oleh pembaca
Kekurangan
Pembahasan peneliti terkadang sedikit membingungkan serta terdapat beberapa kata yang tidak konsisten, namun hal tersebut dapat dikurangi karena kelebihan yang terdapat pada jurnya tersebut.
Bagian uji pH, analisis hasil tidak terdapat penjelasan parameter yang jelas, sehingga pembaca kurang mengetahui kategori berpengaruh pada media atau tidaknya.

Review Jurnal (2) PPT

Review Jurnal (2) : Proses Pembuatan Serat Mikrobial (Nata) dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit

Judul
Proses Pembuatan Serat Mikrobial (Nata) dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit
Jurnal
Teknologi Industri Pertanian
Website
Volume & Halaman
25 (2):171-176
Tahun
2016
Penulis
Sartono*), Zulfahmi, dan Syamsu Akmal
Reviewer
Prameswari Salsabila
Tanggal Review
 07 November 2017


ABSTRAK


Pengolahan buah kelapa sawit menjadi crude palm oil (CPO) menghasilkan limbah cair (limbah cair pabrik kelapa sawit = LCPKS) dalam jumlah besar. Disamping berpotensi sebagai pencemar lingkungan, LCPKS juga memiliki potensi sebagai sumber serat mikrobial. Tujuan penelitian ini adalah penentuan formulasi penambahan air kelapa ke dalam LCPKS dalam pembuatan serat mikrobial (nata) dan penentuan waktu yang tepat untuk inokulasi Acetobacter xylinum pada pembuatan serat mikrobial (nata). Faktor pertama adalah waktu simpan LCPKS, dengan taraf 7 hari, 14 hari, dan 21 hari. Faktor kedua adalah penambahan air kelapa dengan taraf 0%, 10%; 20%; 30%; dan 40% dari total LCPKS. Kesimpulan hasil penelitian adalah (1) penambahan air kelapa ke dalam LCPKS sampai konsentrasi 40% mampu meningkatkan ketebalan dan rendemen serat mikrobial (nata), (2) Acetobacter xylinum mampu tumbuh pada media 100% LCPKS, (3) Penyimpanan LCPKS sampai 21 hari mampu menurunkan ketebalan dan rendemen basah serat mikrobial (nata), tetapi meningkatkan rendemen kering serat mikrobial (nata) yang dihasilkan.
Kata kunci: CPO, LCPKS, nata, serat microbial

1.          Pendahuluan
Kelapa sawit merupakan salah satu pertanian penghasil devisa bagi Indonesia, selain itu kelapa sawit juga menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, tak heran jika kelapa sawit banyak dimanfaatkan untuk pengolahan crude palm oil (CPO). Namun proses pengolahan crude palm oil (CPO) tersebut sebenarnya juga menghasilkan limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) dalam jumlah yang besar. Perkiraan jumlah LCPKS yang dihasilkan di Indonesia adalah setiap ton CPO menghasilkan 3 ton LCPKS. Karakteristik LCPkS mempunyai mempunyai kandungan chemical oxygen demand (COD) 40,000–100,000 mg/L; biological oxygen demand (BOD) 25,000–65,000 mg/L; total padatan 26,5-45,4 g/L dan TSS 17,1- 35,9 g/L. Penelitian lain juga menunjukkan jika LCPKS memiliki tingkat kandungan keasaman (pH) 4-5 dan kandungan bahan organiknya. Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa disamping berpotensi sebagai pencemar lingkungan, LCPKS juga berpotensi sebagai sumber serat microbial dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum.
LCPKS yang kaya akan bahan organik dengan proses fermentasi akan diubah menjadi gula monomer, kemudian dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum diubah menjadi serat microbial. Titik kritis proses konversi LCPKS menjadi serat mikrobial adalah waktu hidrolisis (konversi makromolekul menjadi glukosa) dan fermentasi (konversi glukosa menjadi biomasa/serat). Waktu yang terlalu cepat mengakibatkan glukosa belum terbentuk, sehingga dihasilkan serat sedikit. Demikian juga sebaliknya, waktu yang terlalu lama mengakibatkan glukosa yang terbentuk berubah menjadi CO2 dan H2O. Selain waktu yang tepat untuk inokulasi Acetobacter xylinum, formulasi campuran media untuk pertumbuhannya merupakan suatu hal yang penting.
Sifat fisik unik selulosa yang berasal dari bakteri ini antara lain adalah memiliki kemurnian tinggi, kristalinitas, kekuatan mekanik, dan porositas yang tinggi serta memiliki kapasitas dalam menyerap air yang cukup besar dan mudah terurai. Sifat inilah yang membuat serat nata de coco berpotensi untuk dijadikan bahan pencampur dalam industri kertas, produksi karbon film elektrokonduktif, bahan-bahan untuk keperluan biomedis, dan lain-lain. Oleh karena itu sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, penelitian ini penting untuk meningkatkan daya saing industri, serta memperbaiki citra idustri kelapa sawit Indonesia yang ramah lingkungan. Penelitian ini juga bermanfaat untuk menemukan alternatif bahan baku baru dalam serat mikrobial.