|
|
Jurnal 1
|
Jurnal 2
|
|
Judul
|
Penentuan Pola Kelelahan
Fisik pada Perokok Aktif dengan Mneggunakan Metode Response Surface Methodology
|
Proses Pembuatan Serat
Mikrobial (nata) dari Limbah Cair
Pabrik Kelapa Sawit
|
|
Pendahuluan
|
Sekarang ini jumlah perokok aktif sangatlah
banyak. Merokok sendiri pasti akan berpengaruh pada fisik seseorang. Berawal
dari mempengaruhi fisik, selanjutkan akan mempengaruhi produktifitas dalam
bekerja. Hal tersebut dapat diuur berdasarkan kapasitas par-paru, semakin
kecil kapasitas paru-paru akibat merokok maka akan semakin mudah untuk
kelelahan. Peneliti dalam jurnaknya menggunakan factor interna berupa denyut
nadi untuk mengukur tingkat kelelahan kerja baik itu kerja berat, sedang dan
ringan. Kemudian untuk faktor eksternal yang dapat mempengaruhi produktifitas
kerja adalah kondisi lingkungan yang panas ata suhu dan tingkakt keterangan
cahaya, kedua fktor tersebut dapat mempengarhi produktifitas kerja seseorang.
Penelitian ini diuji dengan menggunakan metode response surface methodology.
|
Kelapa sawit merupakan salah satu pertanian
penghasil devisa, oleh karena itu di Indonesia kelapa sawit banyak diolah
menjadi crude palm oil. Proses pengolahan
tersebut menghasilkan limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) dan jika tidak
diolah makan akan mencemari lingkungan. Selain itu LCPKS juga berpotensi sebagai sumber mikrobial
dengan bantuan bakteri Acetobacter
xylinum. LCPKS yang kaya akan bahan organik dengan proses fermentasi akan
diubah menjadi gula monomer, kemudian dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum diubah menjadi
serat microbial. Sifat fisik selulosa yang berasal dari bakteri ini, yaitu
memiliki kemurnian tinggi, kekuatan mekanik, kristalinitas, porositas yang
tinggi, dan memiliki kapasitas dalam menyerap air yang cukup besar dan mudah
terurai. Sifat inilah yang membuat serat nata
de coco berpotensi untuk dijadikan bahan pencampur dalam industri. Oleh
karena itu sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, peneliti ini
penting untuk meningkatkan daya saing industri, serta untuk menemuukan alternatif
bahan baku baru.
|
|
Tujuan
Penelitian
|
Tujuan penelitian dalam
jurnal ini tidak diterangkan secara jelas, melainkan tersirat dalam
pendahuluan. Tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui pola keleahan fisik
pada perokok aktif, baik itu kerja berat, sedang, dan ringan
|
Menentukan formulasi
penambahan air kelapa ke dalam LCPKS dalam pembuatan serat microbial (nata). Menentukan waktu yang tepaat
untuk inokulasi Acetobacter xylinum
pada pembuatann serat microbial (nata)
dari LCPKS.
|
|
Metode
Penelitian
|
Metode penelitian yang digunakan adalah
metode response surface methodology
yang terbagi menjadi 6 tahapan, yaitu pemilihan variabel independent, penentuann desain eksperimen, pengambilan data,
pemodelan hasil eksperimen, identifikasi bentuk respon pada RSm, dan yang
terakhir adalah identifikasi tahap verifikasi odel menggunkan AOVA untuk
menyimpulkannya
|
Penelitian diawali dengan analisis bahan
baku (LCPKS dan air kelapa), yang meliputi kadar gula total (AOAC, 1995), TSS
(AOAC, 1995), dan pH. Analisis dilakukan 3 kali dan hasilnya dirata-ratakan. Penelitian
utama dilakukan dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan 3
ulangan. Faktor dalam penelitian adalah umur simpan LCPKS, (7, 14, dan 21
hari) penyimpanan LCPKS. Faktor kedua adalah penambahan air kelapa dengan
taraf 0%, 10%; 20%; 30%; dan 40% dari total LCPKS. Data dianalisis dengan taraf
nyata 1%. Parameter pengamatan meliputi ketebalan lapisan nata, rendemen basah, kadar air nata, tingkat keasaman (pH). Proses
fermentasi dilakukan didalam gelas kaca dengan volume 300 mL. Suhu fermentasi
29- 30oC (suhu ruang). Jumlah starter yang digunakan seragam.
|
|
Hasil
dan Pembahasan
|
Penentuan model orde satu
digunakan metode regresi linear dengan pendekatan least square. Hasil pencatatan denyut nadi diolah dengan
menggunakan software Minitab v.17.0.
Nilai α = 0,055 (5%) dengan Ftabel = 3,42. Berdasarkan Tabel ANOVA orde satu
dapat diketahui untuk beban kerja ringan, sedang dan berat tidak memiliki
hun=Bungan yang linear, sehingga perlu dilanjutkan pada model ANOVA orde dua.
Hasil dari beban kerja ringan pengujian orde dua, yaitu pada beban kerja
ringan diperoleh besar denyut nadi berkisar 120 – 125 pada saat suhu tinggi,
sehingga denyut nadi akan meningkat jika suhu meningkat. Titik stasioner orde
II berapa pada denyut nadi 99,659 dengan suhu 19,09’C dan cahaya 351,873 Lux.
Hail pengujian beban kerja sedang diperoleh Besar denyut nadi berkisar 150 –
155 pada saat suhu tinggi, sehingga denyut nadi akan meningkat jika suhu
meningkat. Titik stasioner orde II berapa pada denyut nadi 128.533 dengan
suhu 18,854’C dan cahaya 288,904 Lux. Hasil pembahasan beban kerja berat
diperoleh range denyut nadi > 170 berada di range suhu tinggi dan cahaya
tinggi, sedangkan denyut nadi < 140 berada pada suhu normal dan cahaya
rendah. Semakin jauh suhu dari suhu normal maka akan semakin tinggi denyut
nadi atau tingkat kelelahan fisik. Semakin tinggi cahaya maka akan semakin
tinggi denyut nadi responden.
|
Analisis bahan baku diperoleh hasil untuk
kadar gula air kelapa dan LCPKS adalah 2,09% dan 0,14% yang diharapkan cukup
untuk kebutuhan awal pertumbuhan Acetobacter
xylinum. Kebutuhan gula berikutnya berasal dari konversi TSS LCPKS
menjadi gula, pH air kelapa dan LCPKS dibawah 5,00, sehingga kondisi ini
optimum untuk pertumbuhan Acetobacter xylinum. Lama umur penyimpanan
juga mempengaruhi ketebalan serat, jika LCPKS semakin lama disimpan maka akan
semakin menurun ketebalan serat mikrobal yang dihasilkan. Hasil uji rendemen
serat mikrobial basah, yaitu penambhan air kelapa sampai 40% mampu
meningkatkan rendemen serat microbial, hal ini menunjukkan air kelapa dapat
meningkatkan kecepatan pertumbuhan Acetobacter xylinum. Sedangkan jika
LCPKS lama disimpan, maka akan semakin menurunkannya. Uji pH menyatakan bahwa
semua perlakuan menghasilkan tingkat pH yang sama, yaitu 5,0 – 5,4. Sehingga serat
microbial tidak dipengaruhi oleh pH, namun komposisi media. Uji kadar air
menyatakan pada serat microbial tidak semua air di dalamnya menghilang,
sehingga serat microbial memiliki tekstur lentur dan tidak mudah patah. Uji
kadar serat menyatakan bahwa kadar serat mengalami penigkatan seiring
meningkatnya mur LCPKS
|
|
Kesimpulan
|
Berdasarkan uji anova pada persamaan linear
(persamaan orde I) beban kerja ringan, sedang, dan berat perokok aktif tidak
berbentuk linear. Pengolahan data orde II para perokok aktif dengan kategori
beban kerja ringan dan sedang memiliki pola respon kelelahan fisik pelana,
dengan titik optimum denyut nadi pada beban kerja ringan adalah 99,659 berada
pada suhu 19,09’C dan cahaya 351,873 Lux. Beban kerja sedang mempunyai titik optimum
denyut nadi sebesar 128,533 yang akan tercapai pada suhu 18,854’C dan cahaya
288,904 Lux. Beban kerja berat permukaan responnya cenderung berbentuk
minimum, sehingga semakin jauh suhu dari suhu normal maka akan semakin tinggi
denyut nadi atau tingat kelelahan fisik responden.
|
Penambahan air kelapa ke
dalam LCPKS sampai dengan kosentrasi 40% mampu meningkatkan ketebalan dan
rendemen serat microbial (nata) yang dihasilkan. Umur sampan
LCPKS hingga 21 hari ternyata menurunkan ketebalan dan membuat serat
microbial basah, namun hal tersebut mampu meningkatkan rendemen kering serat
microbial yang dihasilkan.
|
|
Kelebihan
|
Hasil dan pembahasan
dijelaskan oleh peneliti secara jelas, beserta tabel dan diagram statistiknya,
hal ini membuat pembaca lebih mudah untuk memahami jurnal.
|
Terdapat diagram alir yang
mempermudah untuk memahami proses pengujian. Kelebihan yang kedua adalah
Bahasa yang digunakan oleh
peneliti mudah untuk dipahami oleh pembaca
|
|
Kekurangan
|
Pembahasan peneliti terkadang sedikit
membingungkan serta terdapat beberapa kata yang tidak konsisten, namun hal
tersebut dapat dikurangi karena kelebihan yang terdapat pada jurnya tersebut.
|
Bagian uji pH, analisis hasil tidak
terdapat penjelasan parameter yang jelas, sehingga pembaca kurang mengetahui
kategori berpengaruh pada media atau tidaknya.
|
Selasa, 07 November 2017
Tabel Perbandigan Review Jurnal 1 dan Jurnal 2
Review Jurnal (2) : Proses Pembuatan Serat Mikrobial (Nata) dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit
Judul
|
Proses Pembuatan Serat Mikrobial (Nata) dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit
|
Jurnal
|
Teknologi Industri Pertanian
|
Website
| |
Volume & Halaman
|
25 (2):171-176
|
Tahun
|
2016
|
Penulis
|
Sartono*), Zulfahmi, dan Syamsu Akmal
|
Reviewer
|
Prameswari Salsabila
|
Tanggal Review
|
07 November 2017
|
ABSTRAK
Pengolahan
buah kelapa sawit menjadi crude palm oil (CPO)
menghasilkan limbah cair (limbah cair pabrik kelapa sawit = LCPKS) dalam jumlah
besar. Disamping berpotensi sebagai pencemar lingkungan, LCPKS juga memiliki
potensi sebagai sumber serat mikrobial. Tujuan penelitian ini adalah penentuan
formulasi penambahan air kelapa ke dalam LCPKS dalam pembuatan serat mikrobial
(nata) dan penentuan waktu yang tepat
untuk inokulasi Acetobacter xylinum pada
pembuatan serat mikrobial (nata).
Faktor pertama adalah waktu simpan LCPKS, dengan taraf 7 hari, 14 hari, dan 21
hari. Faktor kedua adalah penambahan air kelapa dengan taraf 0%, 10%; 20%; 30%;
dan 40% dari total LCPKS. Kesimpulan hasil penelitian adalah (1) penambahan air
kelapa ke dalam LCPKS sampai konsentrasi 40% mampu meningkatkan ketebalan dan
rendemen serat mikrobial (nata), (2) Acetobacter xylinum mampu tumbuh pada
media 100% LCPKS, (3) Penyimpanan LCPKS sampai 21 hari mampu menurunkan
ketebalan dan rendemen basah serat mikrobial (nata), tetapi meningkatkan rendemen kering serat mikrobial (nata) yang dihasilkan.
Kata kunci: CPO, LCPKS, nata, serat microbial
1.
Pendahuluan
Kelapa
sawit merupakan salah satu pertanian penghasil devisa bagi Indonesia, selain
itu kelapa sawit juga menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar
masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, tak heran jika kelapa sawit banyak
dimanfaatkan untuk pengolahan crude palm
oil (CPO). Namun proses pengolahan crude
palm oil (CPO) tersebut sebenarnya juga menghasilkan limbah cair pabrik
kelapa sawit (LCPKS) dalam jumlah yang besar. Perkiraan jumlah LCPKS yang
dihasilkan di Indonesia adalah setiap ton CPO menghasilkan 3 ton LCPKS. Karakteristik
LCPkS mempunyai mempunyai kandungan chemical
oxygen demand (COD)
40,000–100,000 mg/L; biological oxygen
demand (BOD) 25,000–65,000 mg/L; total padatan 26,5-45,4 g/L dan TSS 17,1-
35,9 g/L. Penelitian lain juga menunjukkan jika LCPKS memiliki tingkat
kandungan keasaman (pH) 4-5 dan kandungan bahan organiknya. Berdasarkan data
tersebut terlihat bahwa disamping berpotensi sebagai pencemar lingkungan, LCPKS
juga berpotensi sebagai sumber serat microbial dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum.
LCPKS
yang kaya akan bahan organik dengan proses fermentasi akan diubah menjadi gula
monomer, kemudian dengan bantuan bakteri Acetobacter
xylinum diubah menjadi serat microbial. Titik kritis proses konversi LCPKS
menjadi serat mikrobial adalah waktu hidrolisis (konversi makromolekul menjadi
glukosa) dan fermentasi (konversi glukosa menjadi biomasa/serat). Waktu yang
terlalu cepat mengakibatkan glukosa belum terbentuk, sehingga dihasilkan serat
sedikit. Demikian juga sebaliknya, waktu yang terlalu lama mengakibatkan
glukosa yang terbentuk berubah menjadi CO2
dan H2O. Selain waktu
yang tepat untuk inokulasi Acetobacter
xylinum, formulasi campuran media untuk pertumbuhannya merupakan suatu hal
yang penting.
Sifat
fisik unik selulosa yang berasal dari bakteri ini antara lain adalah memiliki
kemurnian tinggi, kristalinitas, kekuatan mekanik, dan porositas yang tinggi
serta memiliki kapasitas dalam menyerap air yang cukup besar dan mudah terurai.
Sifat inilah yang membuat serat nata de
coco berpotensi untuk dijadikan bahan pencampur dalam industri kertas,
produksi karbon film elektrokonduktif, bahan-bahan untuk keperluan biomedis,
dan lain-lain. Oleh karena itu sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia,
penelitian ini penting untuk meningkatkan daya saing industri, serta
memperbaiki citra idustri kelapa sawit Indonesia yang ramah lingkungan.
Penelitian ini juga bermanfaat untuk menemukan alternatif bahan baku baru dalam
serat mikrobial.
Langganan:
Postingan (Atom)