Selasa, 07 November 2017

Review Jurnal (2) : Proses Pembuatan Serat Mikrobial (Nata) dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit

Judul
Proses Pembuatan Serat Mikrobial (Nata) dari Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit
Jurnal
Teknologi Industri Pertanian
Website
Volume & Halaman
25 (2):171-176
Tahun
2016
Penulis
Sartono*), Zulfahmi, dan Syamsu Akmal
Reviewer
Prameswari Salsabila
Tanggal Review
 07 November 2017


ABSTRAK


Pengolahan buah kelapa sawit menjadi crude palm oil (CPO) menghasilkan limbah cair (limbah cair pabrik kelapa sawit = LCPKS) dalam jumlah besar. Disamping berpotensi sebagai pencemar lingkungan, LCPKS juga memiliki potensi sebagai sumber serat mikrobial. Tujuan penelitian ini adalah penentuan formulasi penambahan air kelapa ke dalam LCPKS dalam pembuatan serat mikrobial (nata) dan penentuan waktu yang tepat untuk inokulasi Acetobacter xylinum pada pembuatan serat mikrobial (nata). Faktor pertama adalah waktu simpan LCPKS, dengan taraf 7 hari, 14 hari, dan 21 hari. Faktor kedua adalah penambahan air kelapa dengan taraf 0%, 10%; 20%; 30%; dan 40% dari total LCPKS. Kesimpulan hasil penelitian adalah (1) penambahan air kelapa ke dalam LCPKS sampai konsentrasi 40% mampu meningkatkan ketebalan dan rendemen serat mikrobial (nata), (2) Acetobacter xylinum mampu tumbuh pada media 100% LCPKS, (3) Penyimpanan LCPKS sampai 21 hari mampu menurunkan ketebalan dan rendemen basah serat mikrobial (nata), tetapi meningkatkan rendemen kering serat mikrobial (nata) yang dihasilkan.
Kata kunci: CPO, LCPKS, nata, serat microbial

1.          Pendahuluan
Kelapa sawit merupakan salah satu pertanian penghasil devisa bagi Indonesia, selain itu kelapa sawit juga menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, tak heran jika kelapa sawit banyak dimanfaatkan untuk pengolahan crude palm oil (CPO). Namun proses pengolahan crude palm oil (CPO) tersebut sebenarnya juga menghasilkan limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) dalam jumlah yang besar. Perkiraan jumlah LCPKS yang dihasilkan di Indonesia adalah setiap ton CPO menghasilkan 3 ton LCPKS. Karakteristik LCPkS mempunyai mempunyai kandungan chemical oxygen demand (COD) 40,000–100,000 mg/L; biological oxygen demand (BOD) 25,000–65,000 mg/L; total padatan 26,5-45,4 g/L dan TSS 17,1- 35,9 g/L. Penelitian lain juga menunjukkan jika LCPKS memiliki tingkat kandungan keasaman (pH) 4-5 dan kandungan bahan organiknya. Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa disamping berpotensi sebagai pencemar lingkungan, LCPKS juga berpotensi sebagai sumber serat microbial dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum.
LCPKS yang kaya akan bahan organik dengan proses fermentasi akan diubah menjadi gula monomer, kemudian dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum diubah menjadi serat microbial. Titik kritis proses konversi LCPKS menjadi serat mikrobial adalah waktu hidrolisis (konversi makromolekul menjadi glukosa) dan fermentasi (konversi glukosa menjadi biomasa/serat). Waktu yang terlalu cepat mengakibatkan glukosa belum terbentuk, sehingga dihasilkan serat sedikit. Demikian juga sebaliknya, waktu yang terlalu lama mengakibatkan glukosa yang terbentuk berubah menjadi CO2 dan H2O. Selain waktu yang tepat untuk inokulasi Acetobacter xylinum, formulasi campuran media untuk pertumbuhannya merupakan suatu hal yang penting.
Sifat fisik unik selulosa yang berasal dari bakteri ini antara lain adalah memiliki kemurnian tinggi, kristalinitas, kekuatan mekanik, dan porositas yang tinggi serta memiliki kapasitas dalam menyerap air yang cukup besar dan mudah terurai. Sifat inilah yang membuat serat nata de coco berpotensi untuk dijadikan bahan pencampur dalam industri kertas, produksi karbon film elektrokonduktif, bahan-bahan untuk keperluan biomedis, dan lain-lain. Oleh karena itu sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, penelitian ini penting untuk meningkatkan daya saing industri, serta memperbaiki citra idustri kelapa sawit Indonesia yang ramah lingkungan. Penelitian ini juga bermanfaat untuk menemukan alternatif bahan baku baru dalam serat mikrobial.


2.          Tujuan Penulisan
a.      Menentuan formulasi penambahan air kelapa ke dalam LCPKS dalam pembuatan serat mikrobial (nata).
b.      Menentuan waktu yang tepat inokulasi Acetobacter xylinum pada pembuatan serat mikrobial (nata) dari LCPKS.

3.          Metode Penelitian
Peneliti melakukan penelitiannya di Lab. THP dan Pilot Plant Politeknik Negeri Lampung mulai dari Bulan Agustus hingga Desember 2014. Bahan yang digunakan untuk penelitian ini adalah limbah cair pabrik kelapa sawit, air kelapa, bibit nata de coco (Acetobacter xylinum), gula pasir, pupuk ZA, asam asetat glasial ± 96% v/v. Peralatan yang digunakan adalah gelas, panci pemasak, kompor gas, kertas koran, saringan, karet gelang, pengaduk, beaker glass 1000 mL, beaker glass 100 mL, thermometer, jangka sorong, dan pH meter.
Pelaksanaan penelitian diawali dengan analisis bahan baku (LCPKS dan air kelapa), yang meliputi kadar gula total (AOAC, 1995), TSS (AOAC, 1995), dan pH. Analisis dilakukan 3 kali ulangan dan hasilnya dirata-ratakan. Selanjutnya penelitian utama dilakukan dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan 3 ulangan. Faktor dalam penelitian adalah umur simpan LCPKS, dengan taraf 7 hari, 14 hari, dan 21 hari penyimpanan LCPKS. Faktor kedua adalah penambahan air kelapa dengan taraf 0%, 10%; 20%; 30%; dan 40% dari total LCPKS. Data dianalisis dengan sidik ragam pada taraf nyata 1%. Parameter pengamatan produk yang dihasilkan meliputi : ketebalan lapisan nata, rendemen basah, kadar air nata, tingkat keasaman (pH). Diagram alir pelaksanaan penelitian dapat dilihat pada Gambar 1. Proses fermentasi dilakukan didalam gelas kaca dengan volume 300 mL. Suhu fermentasi 29- 30oC (suhu ruang). Jumlah starter yang digunakan seragam.

4.          Hasil dan Pembahasan
          Hasil dan pembahasan pada jurnal ini adalah peneliti akan menganalisis dari hasil beberapa pengujian yang telah dilakukan. Pengujian -  pengujian tersebut diantaranya, yaitu pengujian bahan baku (LCPKS dan air kelapa), ketebalan serat mikrobial, rendemen serat mikrobial basah, kadar serat, tingkat keasaman media (pH), kadar air, dan kadar serat. Berikut ini merupakan analisis hasil pengujian yang telah dilakukan.
4.1      Analisis Bahan Baku (LCPKS dan Air Kelapa)
Tujuan dari analisis bahan baku adalah untuk mendapatkan kondisi awal bahan baku yang akan digunakan. Hasil analisis LCPKS dan air kelapa dapat dilihat pada Tabel 1, serta tahapan pelaksanakan penelitian dapat dilihat pada Gambar 1
Gambar 1. Tahapan Pelaksanaan Penelitian


Tabel 1. Hasil Analisis Air Kelapa dan LCPKS

Air Kelapa
LCPKS
Kadar gula total (%)
2,09 ± 0,08
0,14 ± 0,018
TSS (%)
4,20 ± 0,19
4,08 ± 0,68
  pH              
4,74 ± 0,24         
4,59 ± 0,30      
Berdasarkan tabel tersebut dapat terlihat bahwa kadar gula air kelapa dan LCPKS adalah 2,09% dan 0,14%. Kadar gula tersebut diharapkan cukup untuk kebutuhan awal pertumbuhan Acetobacter xylinum. Kebutuhan gula berikutnya berasal dari konversi TSS LCPKS menjadi gula, sehingga konversi ini sekaligus penurunan TSS pada LCPKS. Dari kedua tabel tersebut juga terlihat pH air kelapa dan LCPKS dibawah 5,00, kondisi ini merupakan kondisi optimum pertimbuhan Acetobacter xylinum.

4.2         Ketebalan Serat Mikrobial

Tujuan dilakukannya penelitian pengukuran ketebalan serat mikrobial (nata) adalah untuk mengetahui apakah Acetobacter xylinum (mikroba penghasil serat mikrobial) mampu tumbuh dan berkembang pada media yang digunakan. Semakin tebal serat mikrobial yang dihasilkan dapat diartikan bahwa media yang digunakan semakin baik untuk tumbuh dan berkembangnya Acetobacter xylinum. Cara yang digunakan untuk mengukur ketebalan serat mikrobial (nata) basah adalah dengan menggunakan jangka sorong pada lima titik dan hasilnya dirata- ratakan.
Hasil penelitian yang dapat dilihat pada Gambar 2 Hal ini menunjukkan bahwa LCPKS miskin akan nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan Acetobacter xylinum. Media yang paling sesuai untuk pembentukkan serat adalah air kelapa.


Berdasarkan Gambar 3, dapat dijelaskan jika semakin lama umur simpan LCPKS maka semakin menurun ketebalan serat mikrobal yang dihasilkan. Hal tersebut diduga bahwa semakin lama penyimpanan LCPKS menyebabkan terjadinya perubahan.
4.3   Rendemen Serat Mikrobial Basah

Semakin tinggi rendemen erat microbial menunjukkan semakin tinggi tingkat kesesuaian media yang digunakan dengan Acetobacter xylinum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan air kelapa sampai 40% mampu meningkatkan rendemen serat mikrobial yang dihasilkan (Gambar 5). Hal ini menunjukkan bahwa penambahan air kelapa dapat meningkatkan kecepatan pertumbuhan Acetobacter xylinum.
Umur simpan LCPKS juga berpengaruh terhadap rendemen serat microbial yang dihasilkan. Semakin lama disimpan, maka akan semakin menurun rendemen serat microbial basah yang dihasilkan.

4.4   Tingkat Keasaman Media (pH)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan menghasilkan tingkat keasamaan (pH) yang sama, yaitu 5,0 – 5,4. Hal tersebut dapat diartikan bahwa pebentukan serat microbial (nata) oleh Acetobacter xylinum tidak dipengaruhi oleh pH media, melainkan dipengaruhi oleh komposisi media yang digunakan.
4.5      Kadar Air
Pengujian kadar air serat mikrobial dilakukan setelah nata dikeringkan dengan menggunakan sinar matahari selama 3 hari. Hasil pengujian menunjukkan bahwa perlakuan tidak mempengaruhi terhadap kadar air yang dikandung serat mikrobial (nata) yaitu sekitar 11,55% sampai 17,26%. Kisaran kadar air sampel tersebut menunjukkan bahwa di dalam sampel serat mikrobial tidak semua air di dalamnya menghilangm, sehingga serat mikrobial (nata) memiliki tekstur lentur dan tidak mudah patah (fleksibel dan tidak mudah patah).
4.6      Kadar Serat
Pengujian kadar serat dilakukan terhadap perlakuan yang menghasilkan rendeman dan ketebalan serat mikrobial tertinggi, yaitu sampel dengan perlakuan penambahan air kelapa 40% dengan umur LCPKS 7 hari, 14 hari, dan 21 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama umur LCPKS dapat menghasilkan kadar serat semakin tinggi (Gambar 7). Dari hasil uji kadar serat dapat dilihat bahwa kadar serat mengalami peningkatan seiring meningkatnya  umur LCPKS. Berturut-turut pada Umur simpan LCPKS 7, 14, dan 21 hari kadar seratnya adalah 11,73%, 17,05%, dan 25,46%

5      Kesimpulan dan Saran
5.1   Kesimpulan
Penambahan air kelapa ke dalam LCPKS sampai dengan kosentrasi 40% mampu meningkatkan ketebalan dan rendemen  serat microbial (nata) yang dihasilkan. Umur sampan LCPKS hingga 21 hari ternyata menurunkan ketebalan dan membuat serat microbial basah, namun hal tersebut mampu meningkatkan rendemen kering serat microbial yang dihasilkan.
5.2      Saran
          Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai perubahan makromolukul (lemak, prodtein, dan polisakira) menjadi glukosa pada LCPKS sebelum fermentasi pembuatan serat microbial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar