PENENTUAN POLA KELELAHAN FISIK PADA PEROKOK
AKTIF DENGAN MENGGUNAKAN METODE RESPONSE SURFACE METHODOLOGY
(Studi Kasus: Mahasiswa PS. Teknik Industri
UIN Sunan Kalijaga)
Penulis : Tutik Farihah
Dirangkum Oleh : Prameswari Salsabila
Tanggal : 9
Oktober 2017
Abstrak
Penelitian
ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola kelelahan fisik pada perokok aktif
baik di beban kerja ringan, menengah dan beban kerja yang berat dengan faktor
suhu dan cahaya. Response Permukaan Metodologi ( RSM ) adalah kumpulan teknik
statistik dan matematika yang berguna untuk evaluasi hubungan yang ada pada
beberapa faktor kuantitatif terhadap variabel respon. Berdasarkan hasil
pengolahan data pada beban kerja ringan dan beban kerja menengah memiliki
fungsi pola pelana. Sedangkan pada beban kerja berat memiliki fungsi respon
permukaan minimum.
Kata
Kunci: RSM; beban kerja
PENDAHULUAN
Jumlah
perokok di dunia ini tidaklah sedikit, dan tentu saja setiap tahunnya akan terus
meningkat karena pengaruh dari bertambahnya jumlah populasi. Indonesia sendiri
merupakan salah satu negara dengan jumlah perokok terbesar di dunia, hal ini
dibuktikan dengan masuknya Indonesia dalam peringkat ke 3 negara dengan
konsumsi tembakau pada tahun 2008 (WHO dalam Prabandari dkk, 2009). Menurut Poerwadarmminta
(1995) rokok adalah gulungan tembakau yang berbalut daun nipah atau kertas. Merokok
dapat didefinisikan sebagai kegiatan menghisap asap tembakau yang dibakar ke
dalam tubuh dan menghembuskannya kembali ke luar (Amstrong,1990). Menurut Smet
(1994) perokok dapat diklasifikasikan berdasarkan jumlah rokok yang dikonsumsi
perhari, yaitu perokok ringan (1 – 4 batang), sedang (5 – 14 batang), berat
(lebih dari 15 batang). Satu batang rokok mengandung banyak zat yang berbahaya,
sehingga dapat mengganggu kesehatan dan produktivitas kerja yang berhubungan
dengan tingkat kelelahan. Peneliti dalam jurnalnya menggunakan faktor internal
berupa denyut nadi untuk mengukur tinggat kelelahan kerja, baik itu pada beban
kerja berat, sedang dan ringan. Faktor eksternal yang digunakan dalam
penelitian adalah kondisi lingkungan kerja tepatnya adalah suhu dan cahaya.
Peneliti
dalam penelitiannya menggunakan metode Response
Surface Methodology (RSM), yaitu sekumpulan metode matematika dan statistika
yang digunakan dalam permodelan dan analisis, yang bertujuan untuk melihat
pengaruh beberapa variabel kuantitatif terhadap variabel respon serta untuk
mengoptimalkan variabel respon tersebut (Montgomery, 2001). Harapannya
digunakannya metode RSM adalah dapat diketahuinya pengaruh suhu dan cahaya
terhadap tingkat kelelahan responden.
METODE
Penentuan tingkatan suhu dan pencahayaan
dilakukan dengan mengggunakan metode Response
Surface Methodology (RSM) yang dalam penggunaannya terdapat enam tahapan. Berikut
ini merupakan 6 tahapan metode Response
Surface Methodology (RSM) :
- Tahapan yang pertama adalah pemilihan variabel independent, yaitu variabel suhu (X1) yang berada pada kisaran 14C – 35 C, kemudian variabel cahaya (X2) yang berada pada kisaran 150 Lux – 995 Lux.
- Tahapan kedua, yaitu penentuan desain eksperimen. Rancangan untuk model orde pertama menggunakan orthogonal first order (desain faktorial dua level dengan empat center point. Rancangan untuk model orde kedua menggunakan metode Central Composite Design (CCD) atau Box Behken design dengan 4 nf, 4 aksial dan centre point.
- Tahapan ketiga, yaitu pengambilan data dengan kriteria responden adalah perokok aktif mahasiswa teknik industri UIN Sunan Kalijaga, berumur 18 – 30 tahun (semester 4 keatas) dan tidak memiliki riwayat sakit jantung. Tiap responden akan berlari di treadmill selama 4 menit dan diukur denyut nadi pada akhir menit ke-4, kemudian istirahat 1 menit untuk diukur denyut nadi istirahat responden. Denyut nadi kerja dan istirahat di ukur dengan menggunakan sensor pada treadmill.
- Tahapan keempat dan kelima adalah permodelan hasil eksperimen dan identifikasi bentuk respon pada RSM terdiri atas dua tahap yakni: pemberian kode data hasil eksperimen dan permodelan dengan regresi linear. RSM menggunakan kode -1, 0 dan +1 bukan dengan nilai asli faktor (Daneshi et al, 2010).
- Tahap keenam adalah identifikasi Tahap verifikasi model menggunakan ANOVA untuk menyimpulkan apakah model yang terbentuk akurat dan tingkat signifikansi tiap faktor independent terhadap variabel respon. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software Minitab v.17.0. pada Oder I, signifikansi faktor dan model regresi linear dilihat berdasarkan nilai p-value dan R2. Pemodelan orde II signifikansi model dilihat berdasarkan uji kesesuaian model regresi (Lack of Fit) dan uji parameter regresi secara serentak. Uji regresi akan dilihat nilai p-value pada masing-masing factor untuk melihat pengaruhnya (uji H0) terhadap variabel respon.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada
penentuan model orde satu digunakan metode regresi linear dengan pendekatan least square. Hasil pencatatan denyut
nadi diolah dengan menggunakan software
Minitab v.17.0. Nilai α = 0,055 (5%) dengan Ftabel = 3,42. Tabel hasil
pemodelan denyut nadi pada beban kerja dapat dilihat pada Tabel 1
Tabel
1. ANOVA dan Persamaan Model Orde Satu
Beban
Kerja
|
P
- value
|
F - value
|
R2
|
Persamaan
|
Ringan
|
0.986
|
0.01
|
0.46
|
107.44-0.25X1 -1.25 X2
|
Sedang
|
0.979
|
0.02
|
0.70
|
142.22-0.75X1+0.25X2
|
Berat
|
0.147
|
2.69
|
47.27
|
169.22+7.5X1+6.5X2
|
Berdasarkan Tabel 1. Anova dan persamaan
model orde satu maka dapat diketahui pada beban kerja ringan nilai p-value
(0.986)>(α=5%) yang artinya semua faktor tidak signifikan, serta rendahnya
nilai R square dan nilai Fvalue < dari Ftabel maka factor dikatakan
tidak memberikan pengaruh pada persamaan model regresi. Sehingga model
persamaan orde satu: Y = 107.44-0.25X1 -1.25 X2 , dimana
X1 adalah suhu dan X2 adalah cahaya. Pada beban kerja
sedang dan berat memperoleh analisis yang sama sehingga dapat dikatakan model
regresi pada ke tiga beban kerja tidak sesuai atau signifikan untuk
menggambarkan kelelahan fisik perokok pada beban kerja berat atau hubungan
antar variabel bebas (suhu dan cahaya) terhadap variabel terikat (kelelahan fisik
responden) tidak berbentuk linear sehingga dapat dilanjutkan pada model orde II.
Pengujian orde II menggunakan uji kesesuaian
model regresi (Lack of Fit) dan uji
parameter regresi secara serentak. Uji koefisien atau determinasi ganda
digunakan untuk mengetahui keterwakilan data dalam model regresi,uji ini
dilakukan pada 3 model beban kerja. Berikut merupakan analisis yang didapat
berdasarkann uji koefisiensi :
a. Beban
Kerja Berat
Tabel
2. Estimasi Koefisien Persamaan Model Beban Kerja Ringan
Analysis of
Variance
|
Source DF Adj SS Adj MS F-Value P-Value
|
Model 5 1296.13
259.23 7.24 0.011
|
Linear 2 512.99 256.49 7.16 0.020
|
suhu 1 403.27 403.27 11.26 0.012
|
cahaya 1 109.72 109.72 3.06 0.123
|
Square 2 752.89 376.45 10.51 0.008
|
suhu*suhu 1 603.29 603.29 16.85 0.005
|
cahaya*cahaya 1 235.03 235.03 6.56 0.037
|
2-Way Interaction 1 30.25 30.25 0.84 0.389
|
suhu*cahaya 1
30.25 30.25 0.84 0.389
|
Error 7 250.64 35.81
|
Lack-of-Fit 3 82.64 27.55 0.66 0.620
|
Pure Error 4 168.00 42.00
|
Total 12 1546.77
|
S R-sq R-sq(adj) R-sq(pred)
|
5.98374 83.80% 72.22% 45.04%
|
Berdasarkan Tabel 3. diperoleh nilai p-value sebesar 0,620 > 0,05 (nilai sig.)
sehingga H0 diterima sehingga model regresi yang terbentuk cocok. Nilai Fhitung
> Ftabel sehingga dapat disimpulkan variabel bebas berpengaruh terhadap
model regresi. Nilai R-square model yaitu 83,80% sehingga variabel bebas berpengaruh
terhadap variabel terikat sebesar 83,80%. Model persamaannya adalah sebagai
berikut : DNK = 102.00 + 7.10 X1 + 3.70 X2 + 9.31
X1.X1 + 5.81 X2.X2 - 2.75 X1.X2.
Besar denyut nadi berkisar 120 – 125 pada saat suhu tinggi, sehingga denyut
nadi akan meningkat jika suhu meningkat. Titik stasioner orde II berapa pada
denyut nadi 99,659 dengan suhu 19,09’C dan cahaya 351,873 Lux.
b. Beban
Kerja Sedang
Tabel
3. Estimasi Koefisien Persamaan Model Beban Kerja Ringan
Analysis of
Variance
|
Source DF Adj SS Adj MS F-Value P-Value
|
Model 5 603.16 120.63 6.03 0.018
|
Linear 2 459.50 229.75 11.49 0.006
|
Suhu 1 225.31 225.31 11.27 0.012
|
Cahaya 1 234.19 234.19 11.72 0.011
|
Square 2 113.40 56.70 2.84 0.125
|
Suhu*Suhu 1 93.31 93.31 4.67 0.068
|
Cahaya*Cahaya 1
32.53 32.53 1.63 0.243
|
2-Way
Interaction 1 30.25 30.25 1.51 0.258
|
Suhu*Cahaya 1 30.25 30.25 1.51 0.258
|
Error 7 139.92 19.99
|
Lack-of-Fit 3 37.12 12.37 0.48 0.713
|
Pure Error 4 102.80 25.70
|
Total 12 743.08
|
S R-sq R-sq(adj) R-sq(pred)
|
4.47088 81.17% 67.72% 42.86%
|
Berdasarkan Tabel 3. diperoleh
nilai p-value sebesar 0,713 > 0,05
(nilai sig.) sehingga H0 diterima sehingga model regresi yang terbentuk cocok.
Nilai Fhitung > Ftabel sehingga dapat disimpulkan variabel bebas berpengaruh
terhadap model regresi. Nilai R-square
model yaitu 81,17% sehingga variabel bebas
berpengaruh terhadap variabel terikat sebesar 81,17%. Model persamaannya adalah
sebagai berikut : DNK = 138,80 + 5.31X1 +
5.41X2 + 3.66 X1.X1 + 2.16 X2.X2
- 2.75 X1.X2. Besar denyut nadi berkisar 150 – 155 pada
saat suhu tinggi, sehingga denyut nadi akan meningkat jika suhu meningkat.
Titik stasioner orde II berapa pada denyut nadi 128.533 dengan suhu 18,854’C
dan cahaya 288,904 Lux.
c. Beban
Kerja Berat
Tabel
4. Estimasi Koefisien Persamaan Model Beban Kerja Berat
Analysis Of
Variance
|
Source DF Adj SS
Adj MS F-Value P-Value
|
Model 5 1943.28 388.657 8.01 0.008
|
Linear 2 1249.78 624.892 12.88 0.005
|
suhu 1 313.02 313.021 6.45 0.039
|
cahaya 1 936.76 936.764 19.31 0.003
|
Square 2 593.50 296.749 6.12 0.029
|
suhu*suhu 1 3.53 3.532 0.07 0.795
|
cahaya*cahaya 1
568.18 568.184 11.71 0.011
|
2-Way
Interaction 1 100.00 100.000 2.06 0.194
|
suhu*cahaya 1
100.00 100.000 2.06 0.194
|
Error 7 339.64 48.520
|
Lack-of-Fit 3 166.84 55.613 1.29 0.393
|
Pure Error 4 172.80 43.200
|
Total 12 2282.92
|
S R-sq R-sq(adj) R-sq(pred)
|
6.96563 85.12% 74.50% 36.20%
|
Berdasarkan Tabel 4. diperoleh
nilai p-value sebesar 0,393 > 0,05
(nilai sig.) sehingga H0 diterima sehingga model regresi yang terbentuk cocok.
Nilai Fhitung > Ftabel sehingga dapat disimpulkan variabel bebas berpengaruh
terhadap model regresi. Nilai R-square
model yaitu 85,12% sehingga variabel bebas
berpengaruh terhadap variabel terikat sebesar 85,12%. Model persamaannya adalah
sebagai berikut : DNK = 173,20 + 6,26 X1 +
10,82 X2 + 0,71 X1.X1 – 9,04 X2.X2 +
5,00 X1.X2. Range denyut nadi > 170 berada di range suhu tinggi
dan cahaya tinggi, sedangkan denyut nadi < 140 berada pada suhu normal dan
cahaya rendah. Semakin jauh suhu dari suhu normal maka akan semakin tinggi
denyut nadi atau tingkat kelelahan fisik. Semakin tinggi cahaya maka akan
semakin tinggi denyut nadi responden.
KESIMPULAN
Berdasarkan uji anova pada persamaan
linear (persamaan orde I) beban kerja ringan, sedang, dan berat perokok aktif
tidak berbentuk linear. Pengolahan data orde II para perokok aktif dengan
kategori beban kerja ringan dan sedang memiliki pola respon kelelahan fisik
pelana, dengan titik optimum denyut nadi pada beban kerja ringan adalah 99,659
berada pada suhu 19,09’C dan cahaya 351,873 Lux. Beban kerja sedang mempunyai titik optimum
denyut nadi sebesar 128,533 yang akan tercapai pada suhu 18,854’C dan cahaya
288,904 Lux. Beban kerja berat permukaan responnya cenderung berbentuk minimum,
sehingga semakin jauh suhu dari suhu normal maka akan semakin tinggi denyut
nadi atau tingat kelelahan fisik responden.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar